Bunuh diri merupakan fenomena yang sudah sangat sering terjadi di dunia. Bahkan di Indonesia sendiri fenomena ini sudah muncul sejak dulu, terbukti dari cerita-cerita perwayangan kita, seperti cerita dewi Shinta yang membakar dirinya untuk membuktikan kesuciannya pada Rama. Sangat disayangkan oleh masyarakat kita pada saat itu, hal tersebut dianggap mati secara terhormat.
Keberadaan internet saat ini juga memberikan andil kepada orang-orang yang sedang menghadapi masalah berat, sehingga sebagian dari orang-orang tersebut memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Andil yang diberikan oleh internet misalnya, cerita-carita bunuh diri yang bisa kita temukan dari beberapa artikel blog yang siapa saja bebas untuk membuatnya; pemostingan video-video bunuh diri yang bisa kita temukan banyak baik dalam blog, forum, maupun situs resmi youtube; keberadaan forum-forum yang dibuat bebas oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang memberikan pemahaman-pemahaman sesat kepada pembaca thread darinya, yang membuat korban menjadi merasa lebih bersalah, bahkan memberikan solusi bunuh diri, dan cara-cara yang dapat diambil untuk melakukan bunuh diri.
Contoh fenomena bunuh diri yang terjadi karena internet, terjadi pada tanggal 6 agustus 2011, Kepolisian Korea menemukan pria dan wanita usia 20-an tewas di dalam mobil. Kedua orang ini diduga kuat tewas karena bunuh diri gara-gara internet. Kenapa muncul dugaan kuat tersebut, itu karena kedua orang ini saling mengenal setelah bergabung dengan situs bunuh diri dan saling berkomunikasi melalui SMS guna merencanakan bunuh diri. Dan hal tersebut juga pernah terjadi pada bulan juli dimana terdapat dua pemuda dan dua wanita bunuh diri dalam mobil setelah bertemu di situs bunuh diri tersebut. Orang-orang itu meninggalkan catatan di tasnya dalam mobil yang dipenuhi gas beracun dari briket batubara. Pada kasus yang terjadi pada bulan agustus tersebut, pria dan wanita ini menghirup bau racun di dalam kendaraannya saat di bukit di Buan, utara propinsi Jeolla. Pria (29) dan wanita (26) itu diketahui membakar briket batubara dan meminum pil tidur saat di mobilnya seperti dikutip Strait Times.
Sekarang tidak terdengar lagi bunuh diri atas dasar kesetiaan, tetapi masih banyak bunuh diri dengan motif lain. Dewasa ini kalangan psikiatri memandang bunuh diri sebagai perilaku yang bertujuan mengatasi masalah hidup. Suatu perilaku yang “unik manusiawi” dan kultural, yang sesungguhnya bukan berarti pemusnahan diri, melaikan penyelesaian masalah frustrasi, penghindaran diri dari segala situasi yang tidak menyenangkan, pernyataan amarah atau kegelisahan, untuk memperoleh keadaan tidur yang damai dan tentram.
Motif-motif bunuh diri juga beraneka ragam, Scheidman dan Farberow membagi orang yang melakukan bunuh diri menjadi empat golongan, yaitu:
1. Mereka yang percaya bahwa tindakan bunuh diri itu benar, sebab mereka memandang bunuh diri sebagai peralihan menuju ke kehidupan yang lebih baik atau mempunyai arti untuk menyelamatkan nama baiknya, contohnya Hara-kiri.
2. Mereka yang sudah tua, hal ini ditemukan pada orang yang kehilangan anak, atau cacat jasmaninya, yang menganggap bunuh diri sebagai suatu jalan keluar dari keadaan yang tidak menguntungkan bagi mereka.
3. Mereka yang psikotik, dan bunuh diri disini merupakan jawaban terhadap halusinasi atau wahamnya.
4. Mereka yang bunuh diri sebagai balas dendam, yang percaya bahwa karena bunuh dirinya tersebut membuat orang lain akan berduka cita dan mereka sendiri akan dapat menyaksikan kesusahan orang lain itu.
Untuk mencegah terjadinya bunuh diri, akan lebih baik jika kita mendekatkan diri kepada Tuhan, jika memiliki masalah hendaknya mencari orang yang tepat untuk kita mintai tolong bersama mencari solusi terbaik, jangan pernah sedikitpun berfikir untuk mencari hal-hal/info-info yang berkaitan dengan bunuh diri saat kita sedang dalam masalah yang berat. Untuk keluarga yang anggota keluarganya sedang menghadapi masalah, sikap yang tenang dengan kata-kata yang menentramkan akan sangat membantu, terutama pada ledakan-ledakan amarahnya. Pemberian pengawasan agar anggota keluarga yang bermasalah tersebut tidak berbuat yang tidak diinginkan juga harus dilakukan keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Referensi Artikel:
Banggawan Billy A. 2011. (artikel) http://teknologi.inilah.com/read/detail/1763011/gara-gara-internet-pria-wanita-bunuh-diri.
Referensi Teori:
W. E. Maramis. 1990. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press.
Bunuh Diri Karena Internet
03.33
Iman Firmansyah - 105 08 107
Posted in
Stres
07.21
Iman Firmansyah - 105 08 107
Pengertian Stres
Istilah stres dikemukakan oleh Hans Selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stres dapat digunakan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang diakibatkan oleh berbagai faktor psikologis atau faktor fisik atau kombinasai kedua faktor tersebut. Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang dihadapkan pada situasi internal maupun eksternal. Sedangkan menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Karena banyaknya definisi mengenai stress, maka Sarafino (1994) mencoba mengkonseptualkan ke dalam tiga pendekatan, yaitu stimulus, respons, dan proses.
1. Stimulus
Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa ahli yang menganut pendekatan ini mengkategorikan stressor menjadi tiga :
1. Peristiwa katastropik, misalnya angin tornado atau gempa bumi
2. Peristiwa hidup yang penting, misalnya kehilangan pekerjaan
3. Keadaan kronis, misalnya hidup dalam kondisi sesak dan bising
2. Respons
Respon adalah reaksi seseorang terhadap stressor. Untuk itu dapat diketahui dari dua komponen yang saling berhubungan, yaitu komponen psikologis (perilaku, pola pikir dan emosi) dan komponen fisiologis (detak jantung, keringat dan sakit perut). Kedua respon tersebut disebut dengan strain atau ketegangan.
3. Proses
Stress sebagai suatu proses terdiri dari stressor dan strain dan satu dimensi penting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinu.
Model Stres
a. Response-based model
Mengacu sebagai sekelompompok gangguan kejiwaan dan respon-respon psikis yang timbul pada situasi sulit. Model ini mencoba mengidentifikasikan pola kejiwaan dan respon-respon kejiwaan yang diukur pada lingkungan yang sulit.
b. Stimulus-based model
Model stress ini memusatkan oerhatian pada sifat-sifat stimuli stress
c. Interactional model
Metode ini merupakan gabungan dari response-based model dan stimulus-based model. Ini mengingatkan bahwa dua model terdahulu membutuhkan tambahan informasi mengenai motif-motif individual dan kemampuan mengcoping (mengatasi).
Jenis-jenis Stres
Holahan (1981) menyebutkan jenis stress dibedakan menjadi dua bagian, yaitu systemic stress dan psychological stress. Systemic stress didefinisikan oleh Selye sebagai respon non spesifik dari tubuh terhadap beberapa tuntutan lingkungan.
Sumber-sumber Stres
Menurut Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga kelompok sumber stres, yaitu :
1. Fenomena catalismic, yaitu kejadian yang tiba-tiba, khas dan kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bemcana alam, perang, banjir dsb
2. Kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti respon seseorang terhadap penyakit
3. Daily has-sles, yaitu masalah yang sering dijumpai didalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut ketidakpuasan kerja atau masalah lingkungan seperti kesesakan atau kebisingan.
Kaitan Stres dengan Psikologi Lingkungan Serta Pengaruhnya dalam Lingkungan
Dalam mengulas dampak lingkungan binaan terutama bangunan terhadap stress psikologis, Zimring mengajukan dua pengandaian. Yang pertama, stress dihasilkan oleh proses dinamik ketika orang berusaha memperoleh kesesuaian antara kebutuhan-kebutuhan dan tujuan dengan apa yang disajikan oleh lingkungan. Pengandaian kedua adalah bahwa variabel transmisi harus diperhitungkan bila mengkaji stress psikologis yang disebabkan oleh lingkungan binaan. Stres lingkungan sebagai ancaman yang datang dari dunia sekitar, setiap individu selalu mencoba untuk coping dan beradaptasi dengan ketakutan, kecemasan dan kemarahan yang dimilikinya. Psikologi lingkungkan membahas tentang lingkungan dimana manusia sendiri tinggal, tentu saja ada kaitannya dengan stress. Apalagi dilingkungan yang padat dan tidak terkendali ramainya, bila tidak pintar-pintar beradaptasi, stress akan melanda kita. Kepadatan tinggi merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan kesesakan bagi individu yang berada didalamnya.
Contoh
Contoh nyatanya, kepadatan yang ada di kota Jakarta sudah sangat mengganggu kenyamanan warganya. Sehingga menimbulkan kemacetan dan menyebabkan stress. Stress ini mempengaruhi kualitas kerja dan membuat mood berantakan.
Selain dari contoh itu, Fontana menyebutkan bahwa sumber utama dari stress di dalam dan disekitar rumah adalah sebagai berikut :
1. Stress karena teman kerja : misalnya teman kerja yang tidak sejalan dengan pemikirannya dengan kita dan juga teman kerja yang hanya bisa mengadu domba kita di depan bos.
2. Stress karena anak-anak : misalnya anak-anak yang baru bisa berjalan membuat pikiran pusing, atau permintaan anak yang sangat banyak saat mereka masuk masa ABG.
3. Stress karena pengaturan tempat tinggal setempat: misalnya ketua RT yang memimpin tanpa lihat kondisi dan situasi warganya.
4. Tekanan- tekanan lingkungan.
Sumber: http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab7-stres_lingkungan.pdf
Posted in
Privasi (lanjutan) FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRIVASI & PENGARUH PRIVASI TERHADAP PERILAKU
07.16
Iman Firmansyah - 105 08 107
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRIVASI
Faktor personal
Marshall mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya bahwa anak-anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang sesak akan lebih memilih keadaan yang anonym dan reserve saat ia dewasa. Sedangkan orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kota akan lebih memilih keadaan anonym dan intimacy. Selain itu Walden dkk menemukan adanya perbedaan jenis kelamin dalam privasi.
Faktor Situasional
Kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri. Peneliti Marshall tentang privasi dalam rumah tinggal, menemukan bahwa tinggi rendahnya privasi di dalam rumah antara lain disebabkan oleh seting rumah.
Faktor Budaya
Setiap budaya tidak ditemukanadanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi. Tidak ada keraguan bahwa perbedaan masyarakat menunjukan variasi yang besar dalam jumlahprivasi yang dimilki anggotanya.
PENGARUH PRIVASI TERHADAP PERILAKU
Altman (1975) menjelaskan bahwa fungsi psikologis dari perilaku yang penting adalah mengatur interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial. Bila seseorang dapat mendapatkan privasi seperti yang diinginkannya maka ia akan dapat mengatur kapan harus berhubungan dengan orang lain dan kapan harus sendiri.
Maxine Wolfe dkk mencatat bahwa pengelolaan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari.
Westin (dalam Holahan, 1982) mengatakan bahwa ketertutupan terhadap informasi personal yang selektif, memenuhi kebutuhan individu untuk membagi kepercayaan dengan orang lain.
Schwatrz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang sulit.
Westin (dalam Holahan, 1982) dengan privasi kita juga dapat melakukan evaluasi diri dan membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri. Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil suatu rangkuman bahwa fungsi psikologis dari privasi dapat dibagi menjadi dua yaitu, pertama privasi memainkan peran dalam mengelola interaksi sosial yang kompleks di dalam kelompok sosial. Kedua, privasi membantu kita memantapkan perasaan identitas pribadi.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Privasi
Posted in
Privasi
07.11
Iman Firmansyah - 105 08 107
Kerahasiaan pribadi (privasi) adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi kadang dihubungkan dengan anonimitas walaupun anonimitas terutama lebih dihargai oleh orang yang dikenal publik. Privasi dapat dianggap sebagai suatu aspek dari keamanan.
Hak pelanggaran privasi oleh pemerintah, perusahaan, atau individual menjadi bagian di dalam hukum di banyak negara, dan kadang, konstitusi atau hukum privasi. Hampir semua negara memiliki hukum yang, dengan berbagai cara, membatasi privasi, sebagai contoh, aturan pajak umumnya mengharuskan pemberian informasi mengenai pendapatan. Pada beberapa negara, privasi individu dapat bertentangan dengan aturan kebebasan berbicara, dan beberapa aturan hukum mengharuskan pemaparan informasi publik yang dapat dianggap pribadi di negara atau budaya lain.
Privasi dapat secara sukarela dikorbankan, umumnya demi keuntungan tertentu, dengan risiko hanya menghasilkan sedikit keuntungan dan dapat disertai bahaya tertentu atau bahkan kerugian. Contohnya adalah pengorbanan privasi untuk mengikut suatu undian atau kompetisi; seseorang memberikan detil personalnya (sering untuk kepentingan periklanan) untuk mendapatkan kesempatan memenangkan suatu hadiah. Contoh lainnya adalah jika informasi yang secara sukarela diberikan tersebut dicuri atau disalahgunakan seperti pada pencurian identitas.
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Privasi
Posted in
TERITORIALITAS
07.07
Iman Firmansyah - 105 08 107
Holahan (dalam Iskandar, 1990), mengungkapkan bahwa teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan cirri pemiliknya dan pertahanan dari serangan orang lain. Degan demikian menurut Altman (1975) penghuni tempat tersebut dapat mengontrol daerahnya atau unitnya dengan benar, atau merupakan suatu territorial primer.
Menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari territorialitas, yaitu :
1. Kepemilikan atau hak dari suatu tempat
2. Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu
3. Hak untuk mempertahankan diri dari ganggunan luar
4. Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasra psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika
Menurut Altman (1975), territorial bukan hanya alat untuk menciptakan privasi saja, melainkan berfungsi pula sebagai alat untuk menjaga keseimbangan hubungan social. Altman juga membagi territorialitas menjadi tiga, yaitu :
1. Territorial Primer
Jenis tritori ini dimiliki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritori uatam ini akan mengakibatkantimbulnya perlawanan dari pemiliknya karena menyangkut masalah serius terhadap aspek psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitasnya.
2. Territorial Sekunder
Jenis teritori ini lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Territorial ini juga dapat digunakan oleh orang lain yang masih di dalam kelompok ataupun orang yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu. Sifat teritori sekunder adalah semi-publik.
3. Territorial Umum
Territorial umum dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana territorial umum itu berada. Territorial umum dapat dipergunakan secara sementara dalam jangka waktu lama maupun singkat.
Sumber: http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab5-ruang_personal_dan_teritorialias.pdf
Posted in
RUANG PERSONAL
06.52
Iman Firmansyah - 105 08 107
Ruang pribadi adalah kawasan sekitarnya seseorang yang mereka anggap sebagai psikologis mereka. Gagasan ruang pribadi berasal dari Edward T. Hall , ide-ide yang dipengaruhi oleh Heini Hediger studi dari perilaku hewan kebun binatang.
Ruang pribadi itu sebuah tempat yang nggak terbatas oleh bentuk fisik . ruang pribadi adalah tempat untuk kita menjadi diri kita sendiri. Melakukan sesuatu yang menjadi passion kita. Keinginan yang terpendam, yang sangat bernafsu untuk kita wujudkan dan kerjakan. Tanpa di batasi oleh peraturan, orang lain, bahkan diri kita sendiri. Tempat untuk bebas berekspresi menjadi diri kita sesungguhnya. Lebih jauh lagi ruang pribadi itu adalah “tempat kita melepaskan topeng kita”.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara dengan orang lain, kita membuat jarak terhadap orang yang kita ajak bicara, jarak ini sangat bergantung pada bagaimana sikap dan persepsi kita terhadap orang tersebut. Persepsi ruang inilah yang disebut oleh J.D. Fisher sebagai personal space. Personal space didefinisikan sebagai suatu batas maya yang mengelilingi kita yang dirasakan sebagai wilayah pribadi kita dan tidak boleh dilalui oleh orang lain.
Jika dianalogikan, Personal space ini seperti layaknya sebuah tabung yang memiliki lapisan-lapisan. Lapisan-lapisan ini adalah ruang-ruang tak terlihat dimana kita merasa aman terhadap lawan bicara kita. Pelanggaran terhadap jarak ini dapat membuat sang “korban" merasa tidak nyaman, kesal, cemas, atau bahkan mungkin marah.
Menurut E.T. Hall ada 4 lapisan personal space:
1. Jarak intim: (0-0.5m) jarak ini adalah jarak dimana kita hanya mengizinkan orang-orang yang terasa sangat dekat dengan kita untuk berada didalamnya. Biasanya kekasih/pasangan, orang tua, kakak/adik, dan sahabat dekat dapat memasukinya tanpa menimbulkan rasa risih.
2. Jarak personal: (0.5-1.3m) jarak ideal untuk percakapan antara 2 orang teman atau antar orang yang sudah saling akrab.
3. Jarak sosial: (1.3-4m) jarak yang biasa kita buat untuk hubungan yang bersifat formal, seperti: bisnis, pembicaraan dengan orang yang baru kita kenal, dsb.
4. Jarak publik: (4-8m) jarak untuk hubungan yang lebih formal seperti penceramah dengan hadirinnya. Paspampresnya amerika biasanya membuat ruang kosong selebar +/- 4m untuk menjaga pejabat penting.
Ruang Personal dan Perbedaan Budaya
Ruang pribadi adalah sangat bervariasi. Mereka tinggal di tempat-tempat padat penduduk cenderung memiliki ruang pribadi yang lebih kecil. Warga India cenderung memiliki ruang pribadi lebih kecil daripada di Mongolia padang rumput , baik dalam hal rumah dan individu . Untuk contoh yang lebih rinci, lihat hubungi Tubuh dan ruang pribadi di Amerika Serikat.
Ruang pribadi telah berubah historis bersama dengan batas-batas publik dan swasta dalam budaya Eropa sejak Kekaisaran Romawi. Topik ini telah dieksplorasi dalam A History of Private Life, di bawah redaktur umum Philippe Aries dan Georges Duby , diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Belknap Press.
Ruang pribadi adalah juga dipengaruhi oleh posisi seseorang dalam masyarakat dengan individu-individu kaya lebih menuntut ruang pribadi yang lebih besar. Orang membuat pengecualian terhadap, dan memodifikasi kebutuhan ruang mereka. Sejumlah hubungan dapat memungkinkan untuk ruang pribadi untuk dimodifikasi dan ini termasuk hubungan keluarga, mitra romantis, persahabatan dan kenalan dekat di mana tingkat yang lebih besar kepercayaan dan pengetahuan seseorang memungkinkan ruang pribadi untuk dimodifikasi.
Reaksi dua orang yang ruang pribadi dalam konflik
Dua orang yang tidak mempengaruhi ruang pribadi masing-masing
SUMBER : http://en.wikipedia.org/wiki/Personal_space
http://furyjnonk-fury.blogspot.com/2011/03/ruang-personal.html
Posted in
KESESAKAN
08.49
Iman Firmansyah - 105 08 107
Altman (1975), kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil.
Altman (1975), Heimstra dan Mc Farling (1978) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu(Heimstra dan Mc Farling, 1978; Holahan, 1982).
Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dikatakan sebagai kesesakan atau tidaknya dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat faktor:
1. Karakteristik seting fisik
2. Karakteristik seting sosial
3. Karakteristik personal
4. Kemampuan adaptasi
Stokols (dalam Altman, 1975) membedakan antara kesesakan bukan sosial(nonsocial crowding) yaitu dimana faktor-faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding, seperti sebuah ruang yang sempit, kesesakan sosial (social crowding) yaitu perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak. Stokols membedakan antara kesesakan molekuler dan molar. Kesesakan Molar (molar crowding) yaitu perasaan sesak yang dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk kota. Kesesakan Molekuler (moleculer crowding) yaitu perasaan sesak yang menganalisis mengenai individu, kelompok kecil dan kejadian-kejadian interpersonal.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah pada dasarnya batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia, dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa terlalu banyak.
Untuk menerangkan terjadinya kesesakan dapat digunakan tiga model teori, yaitu : beban stimulus, kendala perilaku, dan teori ekologi (Bell dkk, 1978; Holahan, 1982).
Menurut model beban stimulus, kesesakan akan terjadi pada individu yang dikenai terlalu banyak stimulus, sehingga individu tersebut tak mampu lagi memprosesnya. Model kendala perilaku menerangkan kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa, sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu. Hambatan ini mengakibatkan individu tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkannya. Terhadap kondisi tersebut, individu akan melakukan psychological reactance, yaitu suatu bentuk perlawanan terhadap kondisi yang mengancam kebebasan untuk memiliih. Bentuk psychological reactance tersebut adalah usaha-usaha untuk mendapatkan lagi kebebasan yang hilang. Model teori ekologi membahas kesesakan dari sudut proses sosial.
Teori Beban Stimulus
Pendapat teori ini mendasarkan diri pada pandangan bahwa kesesakan akan terbentuk bila stimulus yang diterima individu melebihi kapasitas kognitifnya sehingga timbul kegagalan memproses stimulus atau informasi dari lingkungan. Schmidt dan Keating (1979) mengatakan bahwa stimulus disini dapat berasal dari kehadiran banyak orang beserta aspek-aspek interaksinya, maupun kondisi-kondisi fisik dari lingkungan sekitar yang menyebabkan bertambahnya kepadatan sosial. Berlebihnya informasi dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:
1. Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan.
2. Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat.
3. Suatu percakapan yang tidak dikehendaki.
4. Terlalu banyak mitra interaksi.
5. Interaksi yang terjadi dirasa lalu dalam atau terlalu lama.
Teori Ekologi
Micklin (dalam Holahan, 1982) mengemukakan sifat-sifat umum model ekologi pada manusia. Pertama, teori ekologi perilaku memfokuskan pada hubungan timbal balik antara orang dengan lingkungannya. Kedua, unit analisisnya adalah kelompok sosial dan bukan individu, dan organisasi sosial memegang peranan sangat penting. Ketiga, menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan sosial.
Wicker (1976) mengemukakan teorinya tentang manning. Teori ini berdiri atas pandangan bahwa kesesakan tidak dapat dipisahkan dari faktor seting dimana dimana hal itu terjadi, misalnya pertunjukan kethoprak atau pesta ulang tahun.
Analisi terhadap seting meliputi :
1. Maintenance minim, yaitu jumlah minimum manusia yang mendukung suatu seting agar suatu aktivitas dapat berlangsung. Agar pembicaraan menjadi lebih jelas, akan digunakan kasus pada sebuah rumah sebagai contoh suatu seting. Dalam hal ini, yang dinamakan maintenance setting adalah jumlah penghuni penghuni rumah minimum agar suatu ruang tidur ukuran 4 x 3 m bisa dipakai oleh anak-anak supaya tidak terlalu sesak dan tidak terlalu longgar.
2. Capacity, adalah jumlah maksimum penghuni yang dapat ditampung oleh seting tersebut (jumlah orang maksimum yang dapat duduk di ruang tamu bila sedang dilaksanakan hajatan)
3. Applicant, adalah jumlah penghuni yang mengambil bagian dalam suatu seting. Applicant dalam seting rumah dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Performer, yaitu jumlah orang yang memegang peran utama, dalam hal ini suami dan isteri.
b) Non-performer, yaitu jumlah orang yang terlibat dalam peran-peran sekunder, dalam hal ini anak-anak atau orang lain dalam keluarga.
Besarnya maintenance minim antara performer dan non-performer tidak terlalu sama. Dalam seting tertentu, jumlah performer lebih sedikit daripada jumlah non-performer, dalam seting lain mungkin sebaliknya.
Teori Kendala Perilaku
Menurut teori ini, suatu situasi akan dianggap sesak apabila kepadatan atau kondisi lain yang berhubungan dengannya membatasi aktivitas individu dalam suatu tempat.
Altman (1975), kondisi kesesakan yang ekstrim akan timbul bila faktor-faktor dibawah ini muncul secara simultan:
1. Kondisi-kondisi pencetus, terdiri dari tiga faktor :
a) Faktor-faktor situsional, seperti kepadatan ruang yang tinggi dalam jangka waktu yang lama, dengan sumber-sumber pilihan perilaku yang terbatas.
b) Faktor-faktor personal, seperti kurangnya kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam situasi yang padat dan rendahnya keinginan berinteraksi dengan orang lain yang didasarkan pada latar belakang pribadi, suasana hati, dan sebagainya.
c) Kondisi interpersonal, sepwerti gangguan sosial, ketidak mampuan memperoleh sumber-sumber kebutuhan, dan gangguan lainnya.
2. Serangkaian faktor-faktor organismik dan psikologis seperti stress, kekacauan pikiran, dan persaan kurang enak badan.
3. Respon-respon pengatasan, yang meliputi beberapa perilaku verbal dan non verbal yang tidak efektif dalam mengurangi stress atau dalam mencapai interaksi yang diinginkan dalam jangka waktu yang panjang atau lama.
Faktor-Faktor yang Mempengaharui Kesesakan
1. Faktor Personal
a) Kontrol pribadi dan locus of control
b) Budaya, pengalaman, dan proses adaptasi
c) Serta jenis kelamin dan usia.
2. Faktor Sosial
a) Kehadiran dan perilaku orang lain
b) Formasi koalisi
c) Kualitas hubungan
d) Informasi yang tersedia
3. Faktor Fisik
a) Besarnya skala lingkungan
b) Variasi arsitektural
Freedman (1975) memandang kesesakan sebagai suatu keadaan yang dapat bersifat positif ataupun negatif tergantung pada situasinya. Proshansky (1976) dan Altman (1975) juga berpendapat yang sama dengan freedman. Dan pendapat Altman juga didukung oleh Bharucha-Reid dan Kiyak (1982). Mereka melakukan penelitian tentang kepadatan dengan mengambil tiga variabel lingkungan yaitu: kebisingan, kepadatan sosial, dan kepadatan ruang.
Individu yang berada dalam keseakan juga akan mengalami malfungsi fisiologis seperti meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, gejala psikosomatik, serta penyakit-penyakit fisik yang serius (Worchel dan Cooper, 1983).
Perilaku sosial yang seringkali muncul kerena situasi sesak antara lain adalah kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong-royong dan saling membantu, penarikan diri dari lingkungan sosial, berkembangnya sikap acuh tak acuh, dan semakin berkurangnya intensitas hubungan sosial (Holahan 1982).
Ditambahkan oleh Ancok (1989), perasaan sesak (crowding) di dalam rumah akan menimbulkan beberapa permasalahan diantaranya adalah:
1. Menurunnya frekuensi hubungan sex
2. Memburuknya interaksi suami istri
3. Memburuknya cara mengasuh anak
4. Memburuknya hubungan dengan orang-orang di luar rumah
5. Meningkatnya ketegangan dan gangguan jiwa
Penyebab terjadinya kelima permasalahan diatas adalah karena kebutuhan ruangan yang sifatnya personal tidak dapat terpenuhi. Hal ini menyebabkan banyak perilaku untuk memenuhi keinginan (goal directed behavior) tidak terselesaikan.
Konsekuensi negatif dari kesesakan juga coba diterangkan oleh Jain (dalam Awaldi, 1990) menjadi lima asumsi. Pertama, model beban stimulus. Kedua, model kendala perilaku. Ketiga, model ekologi. Keempat, model atribusi. Kelima, model arousal.
Dari sekian banyak akibat negatif kesesakan terhadap perilaku manusia, Brigham (1991) mencoba menerangkan dan menjelaskannya menjadi (1) pelanggaran terhadap ruang pribadi dan atribusi seseorang yang menekan perasaan yang disebabkan oleh kehadiran orang lain. (2) keterbatasan perilaku, pelanggaran privasi dan terganggunya kebebasan memilih. (3) kontrol pribadi yang kurang. (4) stimulus yang berlebihan.
Walaupun pada umumnya kesesakan berakibat negatif terhadap perilaku seseorang. Namun Altman (1975) dan Watson dkk. (1984), kesesakan terkadang memberikan kepuasan dan kesenangan. Hal ini tergantung pada tingkat privasi yang diinginkan, waktu dan situasi tertentu, serta seting kejadian. Contoh situasi yang dapat memberikan kepuasan dan kesenangan adalah pada saat melihat pertunjukan musik, pertandingan olah raga, dan menghadiri persepsi atau reuni.
Sumber: http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab4-kepadatan_dan_kesesakan.pdf
Posted in
KEPADATAN
07.35
Iman Firmansyah - 105 08 107
Sundstrom (dalam Wrightsman & Deaux, 1981) kepadatan, yaitu sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan. Sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFaring, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992). Penelitian tentang kepadatan manusia berawal dari penelitian terhadap hewan yang dilakukan oleh John Calhoun. Penelitian Calhoun (dalam Worche dan Cooper, 1983) menggunakan tikus sebagai objek percobaan yang bertujuan untuk mengetahui dampak negatif kepadatan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perilaku kanibal pada hewan tikus seiring dengan bertambahnya jumlah tikus. Pertumbuhan populasi yang tak terkendali, memberikan dampak negatif terhadap tikus – tikus tersebut. Terjadi penurunan fisik pada ginjal, otak, hati, dan jaringan kelenjar, serta penyimpangan perilaku seperti hiperaktif, homoseksual, dan kanibal. Akibat keseluruhan dampak negatif tersebut menyebabkan penurunan kesehatan dan fertilitas, sakit, mati, dan penurunan populasi.
Penelitian terhadap manusia pernah dilakukan oleh Bell (dalam Setiadi, 1991) mencoba memerinci bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang terjadi; bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku sosial; dan bagaimana dampaknya terhadap kinerja tugas (task performance)? Hasilnya memperlihatkan ternyata banyak hal-hal yang negatif akibat dari kepadatan, diantaranya :
1. Ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.
2. Peningkatan agresivitas pada anak – anak dan orang dewasa (mengikuti kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi sekali (high spatial density). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesama anggota kelompok.
3. Terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.
Holahan (1982) menggolongkan kepadatan ke dalam dua kategori, yaitu :
1. Kepadatan spasial (Spatial Density), dapat terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap
2. Kepadatan sosial (Social Density), dapat terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu.
Zlutnick dan Altman (dalam Altman, 1975: Holahan, 1982) menggambarkan sebuah model dua dimensi untuk menunjukkan beberapa macam tipe lingkungan pemukiman, yaitu:
1. Lingkungan pinggiran kota, yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah.
2. Wilayah desa miskin di mana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar rendah.
3. Lingkungan Mewah Perkotaan, di mana kepadatan dalam rendah sedangkan kepadatan luar tinggi.
4. Perkampungan Kota yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang tinggi.
Altman (1975) membagi kepadatan menjadi :
1. Kepadatan dalam (Inside Density), yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat tinggal seperti kepadatan di dalam rumah, kamar.
2. Kepadatan luar (Outside Density), yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.
Altman (1975), variasi indikator kepadatan berhubungan dengan tingkah laku sosial. Variasi indikator kepadatan itu meliputi :
1. Jumlah individu dalam sebuah kota
2. Jumlah individu pada daerah sensus
3. Jumlah individu pada unit tempat tinggal
4. Jumlah ruangan pada unit tempat tinggal
5. Jumlah bangunan pada lingkungan sekitar dan lain – lain.
Jain (1987) berpendapat bahwa tingkat kepadatan penduduk akan dipengaruhi oleh unsur – unsur, yaitu :
1. Jumlah individu pada setiap ruang
2. Jumlah ruang pada setiap unit rumah tinggal
3. Jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian
4. Jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman.
Heimstra dan Mc Farling (1978), kepadatan memberikan akibat bagi manusia baik secara fisik, sosial maupun psikis. Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain (Heimstra dan McFarling, 1978). Akibat secara sosial antara lain adanya masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling, 1978; Gifford, 1987). Akibat secara psikis antara lain: stres, menarik diri, perilaku menolong (perilaku prososial), kemampuan mengerjakan tugas, perilaku agresi.
Koerte (dalam Budihardjo, 1991), faktor-faktor seperti ras, kebiasaan, adat-istiadat, pengalaman masa silam, struktur sosial dan lain-lain, akan sangat menentukan apakah kepadatan tertentu dapat menimbulkan perasaan sesak atau tidak.
Epstein (dalam Sears dkk., 1994) menemukan bahwa pengaruh kepadatan tinggi tempat tinggal tidak akan terjadi apabila penghuni mempunyai sikap kooperatif dan tingkat pengendalian tertentu.
Hasil penelitian Anderson (dalam Budihardjo, 1991) mengungkapkan bahwa komunitas tradisional etnis Cina di Hongkong, Singapura, dan Penang sudah sejak dulu terbiasa dengan kepadatan tinggi tanpa merasa sesak.
Sumber: http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab4-kepadatan_dan_kesesakan.pdf
Posted in
Ambient Condition dan Architectural Features
07.11
Iman Firmansyah - 105 08 107
A. AMBIENT CONDITION
Rahardjani (1987) dan Ancok (1988) menyajikan beberapa kualitas fisik yang mempengaruhi perilaku, yaitu : kebisingan, temperatur, kualitas udara, pencahayaan, dan warna.
Kebisingan
Sarwono (1992), terdapat tiga faktor yang menyebabkan suatu suara secara psikologis dianggap bising, yaitu : volume, perkiraan, dan pengendalian. Jika dilihat dari tingkat volume, suara yang makin keras akan semakin dirasakan mengganggu. Lalu kebisingan dapat diperkiraan datangnya atau berbunyi secara teratur, akan menimbulkan gangguan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan suara yang datangnya secara tiba-tiba dan tidak teratur. Faktor kendali amat terkait dengan perkiraan, bila kita menyetel lagu metal, kita tidak merasakannya sebagai suatu kebisingan karena kita dapat mengaturnya sekehendak kapan suara itu kita perlukan.
Holahan (1982), membedakan pengaruh kebisingan terhadap kinerja manusia menjadi empat efek, tiga diantaranya adalah efek fisiologis, efek kesehatan, dan efek perilaku. Kebisingan secara fisiologis dapat menjadi penyebab reaksi fisiologis sistematik yang secara khusus dapat diasosiasikan dengan stres. Pada efek kesehatan, jika kebisingan dalam intensitas yang tinggi kita biarkan saja dan dalam jangka yang panjang, maka akan dapat menjadi penyebab hilangnya kemampuan kita dalam mendengar. Dan pada efek perilaku, kebisingan yang tidak disukai telah mempengaruhi hilangnya beberapa aspek perilaku sosial
Suhu dan Polusi Udara
Holahan (1982), tingginya suhu dan polusi udara setidaknya minimal menimbulkan dua efek yaitu efek kesehatan dan efek perilaku. Beberapa studi korelasional dibeberapa kota di Amerika Serikat menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara musim panas dan tingkat mortalitas. Tahun 1976 tingkat mortalitas ini meningkat hingga 50% dibeberapa area. Studi lain menunjukan adanya hubungan antara meningkatnya polusi udara dengan munculnya berbagai penyakit pernapasan seperti asma, infeksi saluran pernapasan, serta flu dibeberapa kota diAmerika Serikat. Pada efek perilaku menunjukan bahwa temperature yang tinggi akan mempengaruhi perilaku sosial. Seorang yang dalam keadaan temperature tinggi (lebih dari 100 derajat F) ternyata memiliki penilaian yang tidak jelas pada kuesioner, dan jelas berbeda dengan orang yang dalam kondisi nyaman.
Rahardjani (1987), suhu dan kelembaban rumah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : warna dinding dalam dan luar rumah, volume ruang, arah sinar matahari, dan jumlah penghuni. Suhu yang paling nyaman adalah kurang lebih 25 derajat Celcius. Menurut Mom dan Weilsebrom, secara fisiologis aliran udara berfungsi sebagai pasokan oksigen untuk pernapasan; mengalirkan uap air yang berlebihan dan asap; mengurangi konsentrasi gas, bakteri, dan bau; mendinginkan suhu; dan membantu penguapan keringan manusia.
Pencahayaan dan Warna
Fisher dan kawan-kawan (1984), pada dasarnya, cahaya dapat mempengaruhi kinerja, dengan cara mempermudah atau mempersulit penglihatan ketika kita mengerjakan sesuatu.
Seperti halnya cahaya, warna juga dapat mempengaruhi kita secara langsung maupun ketika menjadi bagian dari suatu seting. Cahaya dan warna sulit untuk dipisahkan, karena kedua hal tersebut saling mempengaruhi.
Silau
Peristiwa silau terjadi ketika suatu sumber cahaya lebih terang dari pada tingkat penerangan yang normal, sehingga mata kita beradaptasi dengan cara menutupnya langsung seketika, ketika kita melihatnya. Studi yang dilakukan boyce dan Mc Cormick (1982) menunjukan bahwa disability glare atau efek langsung dari silau pada kinerja visual ternyata dapat mempengaruhi kualitas kerja seseorang. Efek negatif lainnya adalah meningkatkan perasaan silau sampai mendekati garis pandangan seseorang.
Warna
Warna yang amat terang dapat berpengaruh terhadap penglihatan. Area yang diberikan warna lebih terang disatu sisi menimbulkan kelelahan mata, juga akan menghasilkan bayangan yang mengganggu. Warna yang terlalu kontras, dapat memberikan terlalu banyak penangkapan mata dan memberikan kesan membingungkan (Lang, 1987).
Heimstra dan Mc Farling, warna memiliki tiga dimensi, yaitu: kecerahan (brightness), corak warna (hue), dan kejenuhan (saturation). Kecerahan adalah intensitas warna; corak warna adalah warna yang melekat dari suatu objek; kejenuhan adalah tingkatan unsure warna putih yang dicampurkan pada warna lainnya. Khroma untuk menggantikan kejenuhan, dan nilai (value), yaitu tingkatan gelap dan terang warna.
Holahan (1982) dan Mehrabian & Russel (1978), warna juga memiliki efek independen terhadap suasana hati, tingkat pembangkitan, dan sikap.
Lang (1987) terdapat perkiraan untuk mempertimbangkan efek psikologis dari persepsi warna. Beberapa ahli percaya bahwa warna gelap memiliki efek ke arah depresif, dan warna terang membuat hidup menjadi lebih mudah, lebih gembira, dan lebih akrab.
Pencahayaan dan Warna Di Dalam Ruangan
Preferensi warna akan menjadi lebih baik jika disertai adanya pemahaman terhadap situasi yang lebih mendalam terhadap jenis ruangan apa yang akan dirancang. Pemahaman tersebut antara lain adalah besar kecilnya ruangan, fungsi ruangan, dan kejenuhan.
B. ARCHITECTURAL FEATURES
Estetika
Pengetahuan tentang estetika akan memberikan perhatian pada dua hal. Pertama, identitas dan pengetahuan mengenai factor-faktor yang mempengaruhi persepsi dari suatu objek atau suatu proses keindahan atau paling tidak suatu pengalaman yang menyenangkan. Kedua, untuk mengetahui kemampuan manusia untuk menciptakan dan untuk menikmati karya yang menunjukan estetika.
Spranger membagi orientasi hidup menjadi enam kategori yaitu, nilai estetis, nilai ekonomi, nilai kekuasaan, nilai sosialm nilai religious, dan nilai intelektual. Menurut Fisher dan kawan-kawan (1984) salah satu tujuan utama dari desain adalah memunculkan respon tertentu terhadap seting yang telah diselesaikan. Kualitas estetika memegang peranan penting dalam hal ini.
Perabot
Imamoglu menemukan bahwa ruangan yang kosong dipersepsikan lebih besar dari pada ruangan yang memiliki perabot.
Pengaturan perabot dapat digunakan untuk membantu mengatur perencanaan tata ruang arsitektur suatu seting. Pada kebanyakan konteks lingkungan, dinding, lokasi pintu sudah ditetapkan.
Referensi:
elearning.gunadarma.ac.id/...psikologi_lingkungan/bab3-ambient_condititon_dan_architectural_features.pdf
Posted in
Pendekata Teori dan Metode Penelitian Psikolgi Lingkungan
06.49
Iman Firmansyah - 105 08 107
PENDEKATAN TEORI
Terdapat beberapa teori yang bersangkutan dengan psikologi lingkungan, antara lain ialah geografi, biologi ekologi, behaviorisme, dan psikologi gestalt (Veitch & Arkkelin, 1995).
Geografi
Toynbee mengembangkan teori bahwa lingkungan (topografi, iklim, vegetasi, ketersediaan air, dst) adalah tantangan bagi penduduk yang berada pada lingkungan tersebut. Tantangan yang ekstrim akan merusak peradaban, dan tantangan yang terlalu kecil akan menyebabkan stagnasi kebudayaan. Tantangan lingkungan pada tingkat menengah juga akan mempengaruhi peradaban.
Biologi Ekologi
Dengan perkembangan ilmu ekologi, seseorang tidak dianggap terpisah dari lingkungannya. Pendapat mengenai hubungan yang saling bergantung antara manusia dan lingkungan akan nampak pada teori-teori yang dikembangkan pada disiplin ilmu psikologi lingkungan.
Behaviorisme
Pemikiran kalangan behaviorisme muncul sebagai reaksi atas adanya kegagalan teori-teori kepribadian untuk menerangkan perilaku-perilaku manusia. Dua hal penting yang menjadi petimbangan yaitu konteks lingkungan dimana suatu perilaku muncul dan variabel-variabel personal (seperti kepribadian dan sikap). Dengan adanya dua hal tersebut maka akan lebih dapat diramalkan suatu fenomena manusia dan lingkungannya, jika dibandingkan dengan membuat pengukurnya masing-masing.
Psikologi Gestalt
Prinsip terpentingnya adalah bahwa objek-objek, orang-orang, dan seting-seting dipersepsi sebagai suatu keseluruhan, dimana hal ini lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagian. Menurut Gestalt, suatu perilaku didasarkan atas proses kognitif, bukan dipengaruhi oleh proses stimulus, melaikan dari persepsi dari stimulus tersebut. Pengaruh Gestalt pada psikologi lingkungan dapat dilihat pada kognisi lingkungan, misalnya untuk memperjelas persepsi, berfikir, dan pemrosesan informasi lingkungan.
Veitch & Arkkelin (1995) menekankan dua hal terkait dengan beberapa perspektif diatas. Pertama, sebagaimana dengan yang telah disebutkan diatas bahwa pendekatan yang dipakai pada perspektif-perspektif diatas ada yang sangat lebar dalam cakupan dan ada juga yang lemah dalam data empiris. Kedua, tidak ada grand theory dalam psikologi lingkungan, karena tidak ada perspektif tunggal yang dapat menerangkan hubungan antara manusia dan lingkungannya secara memuaskan. Beberapa hal yang mempengaruhinya:
a) Tidak ada data yang cukup tersedia dalam kaitan hubungan manusia dan lingkungannya, sehingga dapat dipercaya untuk menyatukan teori.
b) Hubungan-hubungan yang dikaji peneliti sangatlah beragam.
c) Metode yang digunakan tidak konsisten
d) Cara pengukuran variabel tidak selalu kompatibel dari suatu seting penelitian kepenelitian berikutnya.
METODE PENELITIAN
Veitch dan Arkkelin (1995), terdapat tiga metode yang biasa digunakan dalam psikologi lingkungan. Ketiga metode penelitian itu yaitu: Eksperimen Laboratorium, Studi Korelasi, dan Eksperimen Lapangan. Berikut akan saya jelaskan secara singkat beberapa penjelasan dari ketiga metode penelitian tersebut.
Eksperimen Laboratorium
Veitch dan Arkkelin (1995) menjelaskan, jika seorang peneliti memiliki perhatian terutama yang berhubungan dengan tingginya validitas internal, maka eksperimen laboratorium merupakan pilihan yang biasa diambil. Metode ini memberikan kebebasan kepada eksperimenter untuk memanipulasi secara sistematis variabel yang diasumsikan sebagai penyebab dengan cara mengontrol kondisi-kondisi secara cermat yang bertujuan untuk mengurangi variable-variabel yang mengganggu. Metode eksperimen laboratorium juga mengatur pengaruh manipulasi-manipulasi tersebut. Metode ini memilih subjek secara random dalam kondisi eksperimen, sehingga setiap subjek memiliki kesempatan yang sama dalam setiap kondisi eksperimen.
Studi Korelasi
Veitch dan Arkkelin (1995) menjelaskan, jika seorang peneliti ingin memastikan tingkat validitas eksternal yang tinggi, seorang peneliti dapat menggunakan variasi-variasi dari metode korelasi. Pada metode ini, studinya dirancang untuk menyediakan informasi tentang hubungan-hubungan di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam nyata yang tidak dibebani oleh pengaruh pengumpulan data.
Saat studi korelasi digunakan, maka tidak ada penyimpulan yang dimungkinkan, karena hanya diketahui dari dua atau lebih variabel yang berhubungan satu dengan yang lain. Studi korelasi meminimalkan validitas eksternal tetapi seringkali validitas internalnya lemah.
Eksperimen Lapangan
Veitch dan Arkkelin (1995) menjelaskan, jika seorang peneliti ingin menyeimbangkan antara validitas internal yang dapat dicapai melalui eksperimen laboratoruim dengan dicapai melalui studi korelasi, maka metode yang dapat digunakan adalah eksperimen lapangan yang merupakan metode campuran. Dengan menggunakan metode ini, eksperimenter secara sistematis memanipulasi beberapa faktor penyebab yang diajukan dalam penelitian dengan mempertimbangkan variabel eksternal dalam suatu seting tertentu.
Referensi:
www.elearning.gunadarma.ac.id/...psikologi_lingkungan/bab2-pendekatan_teori_dan_metode_penelitian_psikologi_lingkungan.pdf
Posted in
Psikologi Lingkungan
02.58
Iman Firmansyah - 105 08 107
SEJARAH PSIKOLOGI LINGKUNGAN
Field Theory (teori medan) pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin, ini merupakan awal dari munculnya teori yang mempertimbangkan interaksi antara manusia dan lingkungan. Menurut Lewin Tingkah laku adalah fungsi dari pribadi dan lingkungan, yang dapat disimpulkan dengan munculnya rumus TL = f (P.L), dimana TL = tingkah laku, f = fungsi, P = pribadi, L = lingkungan.
Berikut beberapa urutan perkembangan hingga akhirnya kita mengenal istilah psikologi lingkungan sekarang ini:
1943, Lewin memberikan istilah ekologi psikologi, yang kemudian oleh Egon Brunswik dan beberapa mahasiswanya mengajukan istilah psikologi ekologi.
1947, Roger Barker dan Herbert Wright memperkenalkan istilah seting perilaku untuk suatu unit ekologi kecil yang melingkupi perilaku manusia sehari-hari.
1961-1966, muncul istilah psikologi arsitektur ketika diadakannya konferensi pertama di Utah.
1968, Harold Proshansky dan William Ittelson memperkenalkan program tingkat doctoral yang pertama dalam bidang psikologi lingkungan.
DEFINISI PSIKOLOGI LINGKUNGAN
Berikut beberapa definisi yang dinyatakan oleh beberapa tokoh terkait:
Heimstra dan Mc Farling (1989) menyatakan bahwa psikologi lingkungan adalah disiplin yang memperhatikan dan mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungan fisik.
Gifford (1987) mendifinisikan psikologi lingkungan sebagai studi dari transaksi diantara individu dengan seting fisiknya.
Proshansky, Ittleson, dan Rivlin (1989) menyatakan bahwa definisi yang kuat tentang psikologi lingkungan tidak ada. Mereka menjelaskan bahwa psikologi lingkungan adalah apa yang dilakukan oleh psikolog lingkungan
Canter dan Craik (1989) mengatakan bahwa psikologi lingkungan adalah area psikologi yang melakukan konjungsi dan analisis tentang transaksi dan hubungan antara pengalaman dan beberapa tindakan yang berhubungan dengan lingkungan sosiofisik.
Emery dan Tryst (1989) melihat bahwa hubungan antara lingkungan dan manusia merupakan suatu jalinan transactional interdependency atau ketergantungan satu sama yang lain. Hampir sama dengan pendapak Gifford yaitu manusia mempengaruhi lingkungannya, untuk selanjutnya lingkungan yang mempengaruhi manusia, demikian pula terjadi sebaliknya.
Veitch dan Arkkelin (1995) mendifinisikan psikologi lingkungan sebagai ilmu perilaku multidisiplin yang memiliki orientasi dasar dan terapan, yang memfokuskan interrelasi antara perilaku dan pengalaman manusia sebagai individu dengan lingkungan fisik dan sosial.
RUANG LINGKUP PSIKOLOGI LINGKUNGAN
Menurut Proshansky (1974) ruang lingkup psikologi lingkungan mencakup tentang: rancangan, organisasi, pemaknaan, ruangan-ruangan, bangunan-bangunan, ketetanggaan, rumah sakit, perumahan, apartemen, musium, sekolah, mobil, pesawat, teater, ruang tidur, kursi, seting kota, dan lain-lain.
Sarwono (1992) memberikan beberapa penjelasan pengklasifikasian ruang lingkup psikologi lingkungan: lingkungan alamian (mencakup lautan, hutan, dll), lingkungan buatan/binaan (mencakup jalan raya, perumahan, taman, rumah susun, dll), lingkungan sosial, dan lingkungan yang dimodifikasi.
Sementara Veitch dan Arkkelin (1995) menjelaskan bahwa psikologi lingkungan merupakan suatu area dari pencarian yang bercabang dari sejumlah disiplin ilmu seperti biologi, geologi, psikologi, hukum, geografi, ekonomi, sosiologi, kimia, fisika, sejarah, filsafat, beserta sub disiplin dan rekayasanya. Sehingga psikologi lingkungan ini dianggap melibatkan disiplin ilmu yang beragam.
AMBIENT CONDITION DAN ARCHITECTURAL FEATURES
Ambient Condition, kualitas fisik dari keadaan yang mengelilingi individu seperti suara, cahaya, warna, udara, temperatur, dan kelembaban.
Architectural Features, mencakup seting-seting yang bersifat permanen. Misalnya di dalam suatu ruangan yang termasuk di dalamnya antara lain kongfigurasi dinding, lantai, atap, serta pengaturan perabot dan dekorasi.
Referensi:
elearning.gunadarma.ac.id/...psikologi_lingkungan/bab1-pendahuluan.pdf
Posted in
Tahapan Konflik
22.26
Iman Firmansyah - 105 08 107
Perkembangan sebuah kelompok selalu berbeda satu dengan yang lainnya. Namun demikian, terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk membentuk sebuah kelompok. Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam pembentukan kelompok.
Forming. Forming adalah tahap orang berkumpul dan membentuk sebuah kelompok. Pada suatu kegiatan, tidak sedikit peserta yang mengikutinya karena penugasan. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan perasaan was-was maupun keraguan di hati peserta tersebut. Beberapa pertanyaan yang mungkin muncul adalah “Apakah saya dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik?” atau “Apakah saya dapat berbaur dengan peserta yang lain?”. Seorang fasilitator diharapkan dapat memastikan bahwa setiap peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut merasa nyaman dengan lingkungan barunya tersebut. Berikan perhatian secara khusus kepada peserta. Berikan waktu kepada para peserta untuk saling mengenal satu sama lain. Pada kesempatan ini, fasilitator dapat pula menggunakan permainan yang memecah kekakuan (ice breaker).
Informing. Informing merupakan tahap dimana kelompok yang baru terbentuk tersebut diberi penjelasan tentang tujuan dari kegiatan yang akan diselenggarakan. Pada tahap ini biasanya akan didapati interaksi antaranggota karena setiap peserta mulai sadar bahwa mereka menuju pada tujuan yang sama. Seorang fasilitator biasanya akan mencari titik pijak yang sama, dan membentuk visi, misi, serta tujuan kelompok. Fasilitator diharapkan dapat menggunakan kegiatan pengenalan dan agenda yang jelas.
Storming. Pada tahap ini, pembangunan peran diantara masing-masing peserta mulai terbentuk. Storming merupakan fase yang sangat penting dalam dinamika kelompok, karena pada tahap ini akan terjadi tarik menarik, uji coba, bahkan konflik. Benturan antarpribadi sangat mungkin terjadi pada tahap ini – bahkan benturan antara peserta dengan pemimpin kelompok. Seorang fasilitator diharapkan dapat memberikan dukungan kepada seluruh kelompok. Dengan mengembangkan dan menggunakan teknik-teknik fasilitasi, fasilitator juga perlu senantiasa mengingatkan peserta akan tujuan dan norma-norma kelompok. Usahakan agar fasilitator dapat menjaga terjadinya keterbukaan dan mendorong setiap peserta untuk mengatasi konflik yang terjadi.
Norming. Tahapan ini merupakan tahap stabilisasi dimana aturan, ritual, dan prosedur telah ditetapkan dan diterima oleh seluruh peserta. Peserta telah menyepakati identitas perasn sehingga terciptanya suasana kebersamaan. Jalan menuju kemajuan disepakati dan disetujui bersama. Fasilitator diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menghaluskan proses. Jika diperlukan, perbaiki atau sesuaikan norma yang ada, untuk kemudian diserahkan kembali implementasinya kepada kelompok.
Mourning. Mourning merupakan tahap akhir dari proses pembentukan sebuah kelompok. Pada tahapan ini, seluruh tugas telah selesai dikerjaan dan tujuan utama pembentukan kelompok sudah terpenuhi. Siklus kehidupan kelompok secara resmi telah berakhir. Terkadang muncul rasa sedih diantara peserta. Sebagian mulai memikirkan tugas lain yang telah menanti. Fasilitator yang baik diharapkan dapat membantu peserta dalam mempersiapkan masa transisi dari pembentukan kelompok menuju bubarnya kelompok. Pastikan bahwa ada semacam ‘ritual’ perpisahan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Transforming. Pada tahapan ini, tim telah menjadi dinamis karena pembentukan kelompok sudah terjadi dan mulai ada perubahan baik di masing-masing peserta maupun pada kelompok secara keseluruhan. Sebagai seorang fasilitator, diharapkan dapat menunjukkan dukungan dan rasa percaya kepada kelompok. Hargai perubahan yang terjadi dengan memberikan pujian. Yang perlu diingat adalah sebaiknya pujian yang diberikan tidak berlebihan.
Posted in
FAKTOR PENYEBAB KONFLIK
22.24
Iman Firmansyah - 105 08 107
* Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
* Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
* Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda.
* Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri.
Posted in
Konflik
22.23
Iman Firmansyah - 105 08 107
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Posted in
Individu dalam massa
22.21
Iman Firmansyah - 105 08 107
Individu Dalam Massa
• Kehilangan kepribadian yang sadar dan rasional, tindakan kasar dan irasional, menurut secar membabi buta pada pemimpin
• Melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan → agresi
Teori frustasi-agresi dari Fuller-Miller, mengemukakan:
• Agresivitas merupakan cerminan dari frustasi yang dirasakan oleh massa
• Kuat lemahnya tergantung besar kecilnya hambatan dalam mencapai tujuan tersebut
Menurut Sidis, individu dalam massa akan terkena hipnotis bentuk ringan sehingga pertimbangan kritis hilang
Kondisi Psikologis Individu Dalam Massa
Menurut Gustave Le Bon, massa itu mempunyai sifat-sifat psikologis tersendiri. Orang yang tergabung dalam suatu massa akan berbuat sesuatu, yang perbuatan tersebut tidak akan diperbuat bila individu itu tidak tergabung dalam suatu massa. Sehingga massa itu seakan-akan mempunyai daya melarutkan individu dalam suatu massa, melarutkan individu dalam jiwa massa. Seperti yang dikemukakan oleh Durkheim bahwa adnaya individual mind dan collective mind, yang berbeda satu dengan yang lain. Menurut Gustave Le Bon dalam massa itu terdapat apa yang dinamakan hukum mental unity atau law mental unity, yaitu bahwa massa adalah kesatuan mind, kesatuan jiwa.
Menurut Allport, sekalipun kurang dapat menyetujui tentang collective mind tetapi dapat memahami tentang pemikiran adanya kesamaan (conformity), tidak hanya dalam hal berpikir dan kepercayaan, tetapi juga dalam hal perasaan (feeling) dan dalam perbuatan yang tampak (overt behaviour).
Posted in
Jenis, Penyebab dan dinamika gerakan Massa
22.16
Iman Firmansyah - 105 08 107
Ada tiga jenis gerakan massa, yaitu :
1. Gerakan massa progresif : mengganti norma lama dan membentuk norma yang baru
2. Gerakan massa status quo : mempertahankan norma lama (konservatif)
3. Gerakan massa reaksioner : orang yang bersifat untung-untungan, lebih lunak/fleksibel, tidak tegas dan selalu mementingkan golongannya sendiri.
Penyebabnya :
Salah satu pandangan berpendapat bahwa manusia merupakan individu yang mempunyai dorongan atau keinginan yang pada prinsipnya membutuhkan pemuasan atau pemenuhan. Tetapi dalam kenyataannya tidak semua dorongan atau keinginan yang tidak memeperoleh pelepasan terdorong dan tersimpan didalam alam bawah sadar, yang suatu saat akan muncul kembali diatas sadar bila keadaan memungkinkan.
Dalam kehidupan bermasyarakat adanya norma-norma tertentu yang merupakan pedoman yang membatasi gerak atau perilaku anggota masyarakat. Dengan adanya norma, anggota masyarakat tidak dapat bebuat seenaknya. Norma berfungsi dapat menyesuaikan keadaan lingkungan, dengan menyesuaikan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Salah satu mengenai perbuatan masa adalah berdasarkan atas faktor psikologis yang mendasar yaitu orang bertindak dalam massa atas dorongan yang muncul dari alam bawah sadarnya yang ditekan. Jika masalah dipendam akan kurang baik, karena hal itu akan muncul kembali dalam bentuk massa.
Proses Dinamika Gerakan Massa :
1. Pemusatan perhatian
2. Pusat rasa kagum dan perasaan berada pada suatu massa
3. Penciptaan suasana kebersamaan
4. Pemimpin menbayar massa untuk menjalankan aktivitas
Posted in
Massa Abstrak dan Massa Konkrit
22.14
Iman Firmansyah - 105 08 107
Massa Abstrak dan Massa Kongkrit (Mennicke, 1948)
1. Massa Abstrak adalah sekumpulan orang-orang yang sama sekali belum terikat satu kesatuan, norma, motif dan tujuan. Alasan timbul :
• Ada Kejadian Menarik
• Individu Dapat Ancaman
• Kebutuhan Tidak Terpenuhi
2. Massa Kongkrit adalah massa yang mempunyai ciri-ciri: Ciri-ciri:
• Adanya kesatuan mind dan sikap
• Adanya ikatan batin dan persamaan norma
• Ada struktur yang jelas
• Bersifat dinamis dan emosional, sifat massa jelas.
Antara masssa abstrak dan massa kongkrit kadang-kadang mempunyai hubungan, dalam arti bahwa masa abstrak dapat berkembang atau berubah menjadi massa yang kongkrit dan sebaliknya masa kongkrit dapat berubah menjadi massa abstrak. Tetapi ada kalanya masa abstrak bubar tanpa adanya bekas.
Posted in
Pengertian Psikologi Massa
22.08
Iman Firmansyah - 105 08 107
1. Perspektif Psikologis
Psikologi massa, atau psikologi sosial, harus ditempatkan dalam ranah komunikasi massa, dan karena itu sebetulnya gejala psikologis dalam komunikasi itu agak dangkal atau sporadis, jika komunikasi itu kita pahami sebagai sesuatu yang terjadi secara otomatis begitu saja [ibarat hanya sekedar berbicara].
Tetapi jika komunikasi itu kita pahami sebagai proses transformasi atau sharing pesan (message), maka gejala psikologisnya akan sangat mendalam, sebab kita sebetulnya sedang berhadapan dengan orang yang berkarakter tertentu, dan karakternya itu dibentuk oleh carapandangnya, atau tujuan-tujuan standard (subject aim) yang ia miliki atau juga adanya tujuan-tujuan ‘titipan’, yang sebenarnya dimiliki oleh orang atau institusi lain.
Karena itu, teori S-R (Stimulus-Respons) memainkan peran penting dalam hal ini. Artinya bahwa tindak komunikasi massa terjadi karena adanya suatu rangsangan (stimuli), dan pesannya itu tersampaikan atau diterima karena adanya respons atau tanggapan.
Jadi ada suatu proses ‘kesalingan’ dalam berkomunikasi, dan hal ‘kesalingan’ itu terjadi karena pihak pemberi stimuli menyampaikan materi atau pesannya secara tepat [dengan bahasa yang bisa dimengerti, dan simbol yang menyentuh], serta si penerima pesan memberi respons yang memadai [bisa negatif, dalam arti menolak atau juga positif, dalam arti menerima].
1.1. Stimulus dan Respons
Memahami dua hal ini adalah sama halnya dengan memahami manusia secara utuh. Rata-rata dalam teori psikologi behaviorisme, seperti dianut Skinner, manusia terbatas dalam berhubungan dengan lingkungan dan sesamanya. Keterbatasan itu diakibatkan karena secara fisiologis, kita hanya memiliki lima alat indra,– penglihatan (mata), pendengaran (telinga), penciuman (hidung), perabaan (kulit), dan perasa (lidah). Panca indra itu merupakan satu kesatuan dalam menangkap setiap stimuli yang sifatnya memberi data untuk menjelaskan suatu perilaku manusia. Jadi adanya S-R itu tidak bisa dimengerti sebatas apa yang kita tangkap dengan indra itu, melainkan jauh lebih mendalam dan komprehensif. Yaitu kita harus melibatkan kemampuan kognitif (pemikiran, thought) dalam memahami setiap pesan stimuli.
Stimuli akan membawa kita pada adanya suatu obyek perangsang, dan polanya datang kepada kita melalui apa yang kita tangkap dengan indra tadi. Dari data yang berhasil ditangkap indra, kita harus membuat kesimpulan, dan proses menarik kesimpulan itu adalah proses adaptasi hasil tangkapan indra dengan akal budi, atau pemikiran. Jadi proses yang berlangsung setelah menerima rangsangan adalah proses ‘meresapi’ (to fell) dan ‘memahami’ (verstehen, understanding).
Kesimpulan itu yang mematangkan kita untuk yakin bahwa apakah sesuatu yang kita terima itu ‘baik’, ‘benar’, ‘tepat’, atau sebaliknya ‘buruk’, ‘salah’, ‘keliru’. Keyakinan itu yang menuntun kita untuk menjadi percaya akan ada tidaknya pesan dari stimuli tadi, dan itu akan membimbing suatu perilaku tertentu sebagai bentuk respons.
Dengan memasukkan proses kognitif tadi maka setiap bentuk perilaku yang muncul bukanlah hasil ‘ramalan’ (guess), melainkan hasil pemikiran yang komprehensif. Oleh sebab itu jika kemudian hasil pemikiran itu melahirkan aksi sosial atau tindakan sosial, semua itu didorong oleh keyakinan yang telah terbentuk tadi.
1.2. Menyebrang dari Individu ke Massa (Kelompok): Mencoba Memahami Karakter Individu dalam Massa
Psikologi itu memiliki obyek material yakni manusia, dalam hal ini perilaku manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Aspek perilaku yang diteliti dalam psikologi itu kompleks, termasuk perilaku kerja dan perilaku aksi massa.
Hal ini perlu dikatakan sebab, di sekitar individu dan masyarakat ada medan stimulus yang sangat kuat dan kompleks, dan proses pemberian rangsangan itu terjadi melalui berbagai media perantara, termasuk organ indra manusia itu.
Jika kita berbicara mengenai psikologi massa, maka sebetulnya kita menjadikan massa sebagai suatu medan di mana proses-proses S-R tadi terjadi. Dalam hal itu, kemampuan mengidentifikasi bentuk perilaku massa adalah sesuatu yang penting.
Saya mencoba membawa kita ke dalam beberapa langkah mengenal karakter massa, dari suatu pendekatan S-R tadi.
Kasus I:
Pertandingan Bulutangkis memperebutkan Piala Thomas antara Indonesia Vs Korea
Para supporter Indonesia bergegap gempita. Riuh suara mereka memenuhi stadion Istora Senayan Jakarta, menyaksikan pahlawan-pahlawan Bulutangkis Indonesia berjuang melawan pahlawan-pahlawan Bulutangkis Korea Selatan.
Mata kameramen tertuju pada adanya beberapa orang artis di antara para supporter itu. Ada Agnes Monika yang kelihatan sangat agresif, Miing Bagito yang menari-nari, bahkan Menpora Adhyaksa Dault yang sampai berdoa memohon kemenangan kepada Tim Thomas Indonesia.
Di terbine, tampak spanduk bertuliskan “Ayo Rebut Piala Thomas” dan “Ayo Rebut Piala Uber”, lalu di bagian bawah tulisan itu ada juga tulisan “Satu Abad Kebangkitan Nasional”.
Para pahlawan Bulutangkis kita terus berjuang, dan riuh-rendah suara supporter tetap menggema. Tetapi ada supporter yang terkesan tenang. Ari Sihasale dan istrinya Nia Sihasale-Zuklarnaen, hanya duduk di tepi lapangan menyaksikan pertandingan itu. Ari bahkan terlihat ‘tongka dagu’ sambil menyaksikan pertandingan alot itu. Demikian pun Istri Taufik Hidayat yang duduk di panggung utama bersama Agum Gumelar yang terksan tenang menyaksikan pertandingan itu, dan memang Taufik pun kalah.
Tim Thomas Indonesia akhirnya kalah telak 1:3 dari Korea. Langkah ke Final terhenti. Dan Tidak ada Piala Thomas untuk Indonesia.
Dari kasus itu, sejenak kita bisa melihat pola-pola perilaku para supporter tadi. Pertanyaannya ialah bagaimana kondisi S-R yang tampak pada para supporter itu. Mari kita mengidentifikasi hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai stimuli, dan melihat bagaimana pola respons yang diberikan para supporter tadi.
Posted in
Massa
09.08
Iman Firmansyah - 105 08 107
Massa (berasal dari bahasa Yunani μάζα) adalah suatu sifat fisika dari suatu benda yang digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau. Dalam kegunaan sehari-hari, massa biasanya disinonimkan dengn berat. Namun menurut pemahaman ilmiah modern, berat suatu objek diakibatkan oleh interaksi massa dengan medan gravitasi.
Sebagai contoh, seseorang yang mengangkat benda berat di Bumi dapat mengasosiasi berat benda tersebut dengan massanya. Asosiasi ini dapat diterima untuk benda-benda yang berada di Bumi. Namun apabila benda tersebut berada di Bulan, maka berat benda tersebut akan lebih kecil dan lebih mudah diangkat namun massanya tetaplah sama.
Tubuh manusia dilengkapi dengan indera-indera perasa yang membuat kita dapat merasakan berbagai fenomena-fenomena yang diasosiasikan dengan massa. Seseorang dapat mengamati suatu objek untuk menentukan ukurannya, mengangkatnya untuk merasakan beratnya, dan mendorongnya untuk merasakan gaya gesek inersia benda tersebut. Penginderaan ini merupakan bagian dari pemahaman kita mengenai massa, namun tiada satupun yang secara penuh dapat mewakili konsep abstrak massa. Konsep abstrak bukanlah berasal dari penginderaan, melainkan berasal dari gabungan berbagai pengalaman manusia.
Konsep modern massa diperkenalkan oleh Isaac Newton dalam penjelasan gravitasi dan inersia yang dikembangkannya. Sebelumnya, berbagai fenomena gravitasi dan inersia dipandang sebagai dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan. Namun, Isaac Newton menggabungkan fenomena-fenomena ini dan berargumen bahwa kesemuaan fenomena ini disebabkan oleh adanya keberadaan massa.
Posted in
Organisasi
09.07
Iman Firmansyah - 105 08 107
(Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah unt tujuan bersama.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen.[1] Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization analysis).[1]
Posted in
RSS Feed
Twitter







